Langsung ke konten utama

Cerita Nabi Musa 'Alaihissalam bertemu Nabi Khidir As

Baarokallaahh... semoga Allah senantiasa memberkahi kehidupan kita bak keberkahan yang orang-orang dahulu mereka dapatkan.

Baik para pembaca yang budiman, kali ini saya akan menceritakan sedikit seputar pertemuan antara nabi musa 'Alaihissalam (as-pada tulisan berikutnya akan terus disingkat) dengan nabi khidir as (beberapa riwayat beliau adalah orang sholeh, seorang wali Allah, bukan Nabi).



Menurut REPUBLIKA.CO.ID, Penelitian terbaru dari Mesir mengungkap lokasi pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir  menurut Kepala Lembaga Riset dan Studi Arkeologi Sinai, Abdurrahim Raihan, berdasarkan kajian dan hasil pengamatan satelit terungkap, tempat perjumpaan antara keduanya yang dikenal dengan ‘Majma al-Bahrain’ (lokasi persinggungan dua laut) itu, berada di kawasan Ra’s Muhammad, Sharm Sheikh, Mesir. Tepatnya lokasi yang menjadi persentuhan antara Teluk Aqaba dan Teluk Sues, selatan Sinai.

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas, dari Ubay bin Ka’ab dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Nabi Musa pernah berdiri khutbah di tengah-tengah Bani Israil, lalu ia ditanya, “Siapakah manusia yang paling dalam ilmunya?” Saya orang yang paling dalam ilmunya.” Jawab Nabi Musa. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyalahkannya karena tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. 

Alkisah suatu ketika nabi musa as merasa bahwa dia adalah hamba Allah yang paling berilmu, namun Allah menegurnya dengan memberitahu bahwa ada makhluk yang lebih berilmu melebihi didirinya, Nabi Khidir as. Bertempat tinggal  di  مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ (majma'al bahrain) atau persinggungan/pertemuan dua laut. Karena teguran itulah kemudian Nabi Musa as  mencari keberadaan nabi khidir as  untuk menimba ilmu. Allah Subhaanahu wa Ta’aala kemudian mewahyukan kepadanya yang isinya, Bahwa salah seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan lebih dalam ilmunya daripada kamu. Musa berkata, Wahai Tuhanku, bagaimana caraku menemuinya? Kemudian Nabi Musa melakukan pelayaran dengan perahu bersama muridnya (Yusya' bin Nun), ditengah-tengah pelayaran yang melelahkan, mereka beristirahat diantara bebatuan. Betapa terkejutnya simurid ketika bekal yang mereka bawa (ikan di dalam keranjang) melompat ke  laut, namun enggan menceritakannya kepada sang nabi. Pelayaran pun kembali dilanjutkan, saat Nabi musa meminta muridnya untuk mengambilkan perbekalan, sang murid baru menceritakan kejadian yang ia alami sebelumnya, kemudian nabi musa berkata ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ "itulah tempat yang kita cari".  setelah melewati cukup jauh dari tempat peristirahatan, mereka kembali meuju tempat bebatuan tempat untuk beristirahat yang menandakan tempat Nabi Khidir as bermukim. Dalam riwayat lain, Allah berfirman kepadanya, Bawalah ikan dalam sebuah keranjang. Apabila engkau kehilangan ikan itu, maka orang itu berada di sana.Sampailah Nabi Musa ditempat tinggal sang kekasih Allah dan menemuinya, yakni Nabi Khidir as. Nabi Musa memohon agar Nabi Khidir dapat mengajarkan berbagai ilmu kepadanya. Nabi Khidir menyetujui dengan syarat Nabi Musa bersabar tidak menanyakan apapun sebelum Nabi Khidir yang menjelaskannya. Akhirnya Nabi Musa pun menyanggupi persyaratan tersebut dan mengikuti ke mana pun Nabi Khidir pergi. 

Mengawali perjalanan bersama Nabi Khidir di pesisir pantai, tiba-tiba ada perahu yang melintas. Nabi Khidir meminta kepada penumpang agar mereka diikut sertakan dalam perahu tersebut.  maka mereka pun mengangkut dan menyebrankan keduanya tanpa upah. Tiba-tiba ada seekor burung  turun ke tepi perahu kemudian mematuk sekali - dua kali patukan, lalu Khidir mendatangi papan di antara papan-papan perahu kemudian dicabutnya / melepasnya nabi musa berkata:   قَالَأَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرً
"Mengapa engkau melubangi (melepas papan) perahu itu? apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?” Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar". Dalam riwayat lain, (Melihat keadaan itu) Musa berkata, “Orang yang telah membawa kita tanpa meminta imbalan, namun malah engkau lubangi perahunya agar penumpangnya tenggelam.” Nabi Khidir berkata: "Bukankah sudah kukatakan, bahwa engkau tidak mampu sabar bersamaku.” Ia lupa akan janjinya untuk tidak bertanya sebelum Nabi Khidir menjelaskan, lalu ia meminta maaf dan meminta agar tidak dihukum atas perbuatanya itu. 

Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya dan berjumpa dengan seorang anak yang sedang bermain dengan anak-anak yang lain, kemudian Nabi Khidir memegang kepalanya dari atas, lalu menarik kepalanya dengan tangannya. Nabi Khidir membunuhnya, Nabi Musa pun berkata: قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا 
"Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar". Dalam riwayat, Musa berkata, Apakah engkau hendak membunuh seorang jiwa yang bersih bukan karena ia membunuh orang lain?. Nabi Khidir pun mengingatkan kembali  apa yang dikatakan pada kejadian pertama dan Nabi Musa kembali meminta maaf. 

Sebelum melanjutkan perjalanan, Nabi Musa berpesan untuk berpisah dari perjalanan ini apabila Nabi Musa kembali menanyakan apa yang Nabi Khidir  lakukan.  Kemudian mereka melanjutkan perjalananya hingga tiba disuatu kota, mereka meminta untuk dijamu oleh warga namun tidak satu pun dari mereka yang mau memberi jamuan. Di tengah-tengah perjalanan mereka mendapati sebuah bangunan besar yang dindingnya  roboh, maka Khidir menegakkan dinding yang roboh dengan tangannya.  Musa pun berkata, Sekiranya engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu (memperbaiki dinding). Khidir berkata, 
قَالَ    هٰذَا    فِرَاقُ    بَيْنِى    وَبَيْنِكَ Inilah perpisahan antara aku dengan kamu. 


Para pembaca yang dirahmati Allah, karena Nabi Musa  melanggar kesepakatan yang ia buat, maka berakhirlah perjalanan  mereka, selesai sudah Nabi Musa menimba ilmu. Sebelum mereka berpisah Nabi Khidir menjelaskan satu persatu peristiwa yang mereka alami selama diperjalanan  sebagai bentuk pengajaran kepada muridnya, yakni Musa.
  1. Pertama adalah  perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu. 
  2. Kedua adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya daripada anaknya itu dan lebih kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Dalam keterangan yang lain disebutkan bahwa anak itu bernama Haisur. Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Ubay ibnu Ka'b, dari Nabi Saw. yang telah bersabda, disebutkan:
    "الْغُلَامُ الَّذِي قَتَلَهُ الْخَضِرُ طُبِعَ يَوْمَ طُبِعَ كَافِرًا".
    Anak yang dibunuh oleh Khidir telah ditetapkan sejak penciptaannya sabagai orang kafir.
    Ibnu Jarir telah meriwayatkannya dari hadis Ishaq, dari Sa'id, dari Ibnu Abbas dengan sanad yang sama.  Menurut suatu pendapat, ketika Khidir membunuh anak itu, ibunya sedang mengandung seorang bayi laki-laki yang muslim. Demikian menurut Ibnu Juraij.

  3. Ketiga  Adapun yang menjadi pendorong bagiku untuk menegakkan dinding itu karena di bawahnya ada harta benda simpanan kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Allah memerintahkan kepadaku supaya menegakkan dinding itu karena jika dinding itu jatuh (roboh) niscaya harta benda simpanan tersebut akan nampak terlihat dan dikhawatirkan akan dicuri orang. Allah SWT menghendaki agar kedua anak yatim itu mencapai umur dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sendiri dari bawah dinding, sebagai rahmat dari pada-Nya. Dan saya tidak mengerjakan semua pekerjaan itu atas dorongan dan kemauan saya sendiri melainkan semata-mata atas perintah Allah SWT, karena sesuatu tindakan yang berakibat merugikan harta benda manusia dan penumpahan darah tidak boleh dikerjakan kecuali dengan izin dan wahyu dari Allah. Demikianlah penjelasan-penjelasan tentang ketetapan Ku yang kamu tidak sadar terhadapnya.
    Wallahua'lalam...
    sumber: dari berbagai sumber 
apa faedah yang dapat kita petik dari kisah tersebut diatas? nantikan penjelaskan dislide berikutnya. 

Terimakasih sudah mampir, semoga menambah ilmu dan wawasan kita. aamiin... wabillah hittaufiq

Komentar